Follow by Email

Saturday, 24 December 2011

Kuliah Qowaid:Sharaf Tentang Mujarrad (Sebuah Terjemahan)

Ulama Arab menetapkan bahwa fi’il itu tidak kurang dari 3 huruf asli dan mereka juga mengatakan bahwa fi’il itu terdiri dari huruf asli, yang makna sesungguhnya tidak memungkinkan menjadi fi’il yang bermakna jika salah satu hurufnya hilang pada bentuk madhi. Contoh: كتب maka sesungguhnya dia tidak menunjukkan arti apapun kecuali jika ketiga huruf tersebut bersatu, dan kita tidak bias menghilangkan kaf, atau ta’, atau ba’. 

Adapun jika kita mengatakan : كاتب أو إكتتب أو استكتب maka sesungguhnya kita dapat menghapuskan alif dari fi’il awal, dan alif washal dan ta’ dari fi’il yang kedua, dan alif washal dan shin dan ta’ dari fi’il yang ketiga, dan menetapkan makna tersebut dari fi’il. Maka huruf ( kaf, ta’, ba’) dia adalah huruf asli yang menjadikan fi’il terbentuk (كتب) , adapun huruf huruf yang lainnya dinamakan huruf tambahan dimana seperti kita ketahui sesungguhnya huruf tambahan tersebut tidaklah diartikan secara cuma-cuma akan tetapi tambahan tersebut dipakai untuk memberi fungsi tertentu yang akan kami paparkan sebentar lagi. 

Dan masalah ini bukanlah masalah khusus dalam bahasa Arab, akan tetapi juga terkenal didalam bahasa Eropa “alkhiyah” misalnya, dan dia menjadi tampak lebih jelas didalam bahasa Jepang, dimana kami akan memaparkan asal ataupun cabang tertentu yang ditambahkan atas huruf khusus untuk memberikan fungsi tertentu. Dan fi’il yang tersusun atas huruf asliyah saja para ahli sharaf menyebutnya dengan fi’il mujarrad, dan dia juga mendefinisikan fi’il mujarrad ia adalah fi’il yang setiap huruf aslinya tidak hilang didalam salah satu tasrifan kecuali karena illah tasrifiyah. Adapun fi’il yang lainnya para ahli sharaf menamakan fi’il mazid, dan dia adalah setiap fi’il yang ditambahkan dengan huruf-huruf asli yaitu huruf yang jatuh pada sebagian tasrif-tasrif fi’il dengan tanpa illah tasrifiyah atau dua huruf, atau tiga huruf.

Fi’il mujarrad ada dua : Tsulatsi dan Ruba’i 

 A. Mujarrad Tsulasi 

Apabila kita melihat kepada fi’il mujarrad tsulatsi dalam bentuk madhi maka kita akan menemukan bahwa ia mempunyai 3 wazan, demikian itu karena fa’ fi’ilnya selalu berharakat fathah dan lam fi’ilnya itu selalu berharakat fathah dan ‘ain fi’ilnya berharakat fathah atau dhammah atau kasrah. 
Contoh : 1. فعَلَ = نصر 2. فعُلَ = كرم 3. فعِلَ = فرح 

Adapun jika kita melihat kepada bentuk madhi dengan mudhari’ maka kita akan menemukan 6 wazan, para ahli sharaf menjabarkan dari apa yang tidak kita butuhkan dalam praktek pembelajaran ini, demikian itu karena wazan-wazan ini seharusnya diterima, tidak tersusun pada kias-kias tertentu yang telah tertera. 

kita akan memaparkan pada contoh sebagai berikut: 
1. فعَلَ يَفْعُلُ = نصر ينصُرُ – وعَدَ يعِدُ – مدَّ يمدُّ – دعاَ يدعو

 2. فعَلَ يَفعِلُ باع يبيع – أتى يأتى = يضرِبُ - وعد يعِدُضرب

3. فعَلَ يَفْعَلُ = يفتَحُ - وقع يقعُ – قرأ يقرَأُفتح

 4. فعِلَ يَفْعُلُ = يفرحُ – خافَ يخافُ – بقيَ يبقىفرحَ

 5. فعُلَ يَفْعُلُ = يكرَمُ – حسُن يحسُنُ – شرف يشرفكرُمَ

6. فعِلَ يَفْعِلُ = يحسِبُ – ورِثَ يرِثُحسِبَ 

B. Mujarad Ruba’i 

Tidak ada wazan untuk fi’il ini kecuali hanya satu wazan yaitu : فَعْلَلَ . 

misalnya : وسوس زلزل meskipun pada wazan-wazan lainnya, pada fi’il ruba’i mujarad para ahli sharaf menyebutnya dengan fi’il mulhaq dengan wazan aslinya (فَعْلَلَ) dan wazan-wazan yang terkenal ini : 

1. فَوْعَلَ : جوربه yaitu ألبسه الجوارب

2. فَعْوَلَ : دهوره yaitu جمعه و قذفه فى هوة

3. فَيْعَلَ : بيطر yaitu عالج الحيوان 4.

 فَعْيَلَ : عثير yaitu أثار التراب

5. فَعْلَي : ساقى yaitu أستلقى على ظهره 

Penting untuk kalian ketahui bahwa wazan (فَعْلَلَ) yang berkembang pada fi’il mujarrad ruba’I memiliki kepentingan wazan khusus, dimana orang Arab menggunakannya dalam pemakaian yang banyak atau sering, dan kita membutuhkannnya pada waktu sekarang ketika kita menggunakan fi’il-fi’il dari lafadz yang akan datang atau lafadz singkatan dan dari makna-makna yang digunakan didalamnya pada wazan ini memiliki makna sebagai berikut : 
1. Menunjukkan keserupaan, 
contoh: علقم الطعام yaitu  صار كالعقام

2. Menunjukkan bahwa isim yang diambil darinya adalah isim alat, contoh: تلفَنَ yaitu menggunakan televisi 

3. Berarti menjadi, contoh: لَبنَنَ yaitu menjadi orang Libanon. 

4. Akronim/ singkatan, adalah singkatan dari dua kata atau lebih dari satu kata yang menunjukkan makna perkataan banyak, contohnya sebagai berikut: 

a. Singkatan dari dua kata yang tersusun atas mudhaf-mudhaf ilaih atau idhafah, 
misalnya pada contoh : عبد قيس = عبقسي, عبد شمس = عبشَمى 

b. Singkatan dari kalimat, contoh: بسمَلَ artinya بسم الله Jadi, inilah wazan-wazan mujarrad tsulatsi dan ruba’i, sekarang kita berpindah pada fi’il mazid yang telah disebutkan tadi, bahwa ia memiliki dua macam yaitu mazid tsulatsi dan ruba’i. Telah kamu ketahui bahwa setiap tambahan pada fi’il tidaklah sia-sia, maka huruf tambahan dalam bahasa (sama saja dalam ilmu sharaf atau nahwu) tidaklah adanya seperti ketiadaannya, bahwasanya mujarrad itu hanya istilah dalam sharaf atau nahwu, ia memiliki fungsi sharfiyah atau nahwiyah, demikian itu adalah hakikat terpenting dalam pelajaran bahasa. Oleh karena itu kita akan mempelajari penjelasan makna-maknanya huruf tambahan.

5 comments:

  1. aduuuhh susah bacanya.. format penulisannya diperbaiki donk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf blog saya lama tidak saya benahi

      Delete
  2. Replies
    1. wah maaf ya, blog saya lama tidak saya benahi.

      Delete
  3. saya kesulitan mencari contoh fiil ruba,i mulhaq dalam kamus, gimana ya...

    ReplyDelete