Saturday, 24 December 2011

Qowaid : Sharaf : TERJEMAH MATERI MUJARRAD, MAZID, ISNADI

MUJARRAD DAN MAZID

Ulama Arab menetapkan bahwa fi’il itu tidak kurang dari 3 huruf asli dan mereka juga mengatakan bahwa fi’il itu terdiri dari huruf asli, yang makna sesungguhnya tidak memungkinkan menjadi fi’il yang bermakna jika salah satu hurufnya hilang pada bentuk madhi. Contoh: كتب maka sesungguhnya dia tidak menunjukkan arti apapun kecuali jika ketiga huruf tersebut bersatu, dan kita tidak bias menghilangkan kaf, atau ta’, atau ba’. Adapun jika kita mengatakan : كاتب أو إكتتب أو استكتب maka sesungguhnya kita dapat menghapuskan alif dari fi’il awal, dan alif washal dan ta’ dari fi’il yang kedua, dan alif washal dan shin dan ta’ dari fi’il yang ketiga, dan menetapkan makna tersebut dari fi’il. Maka huruf ( kaf, ta’, ba’) dia adalah huruf asli yang menjadikan fi’il terbentuk (كتب) , adapun huruf huruf yang lainnya dinamakan huruf tambahan dimana seperti kita ketahui sesungguhnya huruf tambahan tersebut tidaklah diartikan secara cuma-cuma akan tetapi tambahan tersebut dipakai untuk memberi fungsi tertentu yang akan kami paparkan sebentar lagi. Dan masalah ini bukanlah masalah khusus dalam bahasa Arab, akan tetapi juga terkenal didalam bahasa Eropa “alkhiyah” misalnya, dan dia menjadi tampak lebih jelas didalam bahasa Jepang, dimana kami akan memaparkan asal ataupun cabang tertentu yang ditambahkan atas huruf khusus untuk memberikan fungsi tertentu. Dan fi’il yang tersusun atas huruf asliyah saja para ahli sharaf menyebutnya dengan fi’il mujarrad, dan dia juga mendefinisikan fi’il mujarrad ia adalah fi’il yang setiap huruf aslinya tidak hilang didalam salah satu tasrifan kecuali karena illah tasrifiyah. Adapun fi’il yang lainnya para ahli sharaf menamakan fi’il mazid, dan dia adalah setiap fi’il yang ditambahkan dengan huruf-huruf asli yaitu huruf yang jatuh pada sebagian tasrif-tasrif fi’il dengan tanpa illah tasrifiyah atau dua huruf, atau tiga huruf.

 Fi’il mujarrad ada dua : Tsulatsi dan Ruba’i  Fi’il Mazid juga ada dua : Mazid Tsulatsi dan Mazid Ruba’i A. Mujarrad Tsulasi Apabila kita melihat kepada fi’il mujarrad tsulatsi dalam bentuk madhi maka kita akan menemukan bahwa ia mempunyai 3 wazan, demikian itu karena fa’ fi’ilnya selalu berharakat fathah dan lam fi’ilnya itu selalu berharakat fathah dan ‘ain fi’ilnya berharakat fathah atau dhammah atau kasrah. Contoh : 1. فعَلَ = نصر 2. فعُلَ = كرم 3. فعِلَ = فرح Adapun jika kita melihat kepada bentuk madhi dengan mudhari’ maka kita akan menemukan 6 wazan, para ahli sharaf menjabarkan dari apa yang tidak kita butuhkan dalam praktek pembelajaran ini, demikian itu karena wazan-wazan ini seharusnya diterima, tidak tersusun pada kias-kias tertentu yang telah tertera. kita akan memaparkan pada contoh sebagai berikut: 1. فعَلَ يَفْعُلُ = نصر ينصُرُ – وعَدَ يعِدُ – مدَّ يمدُّ – دعاَ يدعو 2. فعَلَ يَفعِلُ باع يبيع – أتى يأتى = يضرِبُ - وعد يعِدُضرب 3. فعَلَ يَفْعَلُ = يفتَحُ - وقع يقعُ – قرأ يقرَأُفتح 4. فعِلَ يَفْعُلُ = يفرحُ – خافَ يخافُ – بقيَ يبقىفرحَ 5. فعُلَ يَفْعُلُ = يكرَمُ – حسُن يحسُنُ – شرف يشرفكرُمَ 6. فعِلَ يَفْعِلُ = يحسِبُ – ورِثَ يرِثُحسِبَ B. Mujarad Ruba’i Tidak ada wazan untuk fi’il ini kecuali hanya satu wazan yaitu : فَعْلَلَ . misalnya : وسوس زلزل meskipun pada wazan-wazan lainnya, pada fi’il ruba’I mujarad para ahli sharaf menyebutnya dengan fi’il mulhaq dengan wazan aslinya (فَعْلَلَ) dan wazan-wazan yang terkenal ini : 1. فَوْعَلَ : جوربه yaitu ألبسه الجوارب 2. فَعْوَلَ : دهوره yaitu جمعه و قذفه فى هوة 3. فَيْعَلَ : بيطر yaitu عالج الحيوان 4. فَعْيَلَ : عثير yaitu أثار التراب 5. فَعْلَي : ساقى yaitu أستلقى على ظهره Penting untuk kalian ketahui bahwa wazan (فَعْلَلَ) yang berkembang pada fi’il mujarrad ruba’I memiliki kepentingan wazan khusus, dimana orang Arab menggunakannya dalam pemakaian yang banyak atau sering, dan kita membutuhkannnya pada waktu sekarang ketika kita menggunakan fi’il-fi’il dari lafadz yang akan datang atau lafadz singkatan dan dari makna-makna yang digunakan didalamnya pada wazan ini memiliki makna sebagai berikut : 1. Menunjukkan keserupaan, contoh: علقم الطعام yaitu صار كالعقام 2. Menunjukkan bahwa isim yang diambil darinya adalah isim alat, contoh: تلفَنَ yaitu menggunakan televisi 3. Berarti menjadi, contoh: لَبنَنَ yaitu menjadi orang Libanon. 4. Akronim/ singkatan, adalah singkatan dari dua kata atau lebih dari satu kata yang menunjukkan makna perkataan banyak, contohnya sebagai berikut : a. Singkatan dari dua kata yang tersusun atas mudhaf-mudhaf ilaih atau idhafah, misalnya pada contoh : عبد قيس = عبقسي, عبد شمس = عبشَمى b. Singkatan dari kalimat, contoh: بسمَلَ artinya بسم الله Jadi, inilah wazan-wazan mujarrad tsulatsi dan ruba’i, sekarang kita berpindah pada fi’il mazid yang telah disebutkan tadi, bahwa ia memiliki dua macam yaitu mazid tsulatsi dan ruba’i. Telah kamu ketahui bahwa setiap tambahan pada fi’il tidaklah sia-sia, maka huruf tambahan dalam bahasa (sama saja dalam ilmu sharaf atau nahwu) tidaklah adanya seperti ketiadaannya, bahwasanya mujarrad itu hanya istilah dalam sharaf atau nahwu, ia memiliki fungsi sharfiyah atau nahwiyah, demikian itu adalah hakikat terpenting dalam pelajaran bahasa. Oleh karena itu kita akan mempelajari penjelasan makna-maknanya huruf tambahan.

A. Mazid Tsulatsi Fi’il Tsulasi mujarrad mungkin bisa ditambahi satu huruf, atau dua huruf, atau tiga huruf. Pertama, Mazid Tsulatsi dengan satu huruf: • Ada tiga wazan: 1) Menambahkan hamzah qatha’ pada awalnya supaya menjadi berwazan “ أفعل ” contoh: أخرج – أكرم 2) Menambahkan huruf dari jenis ‘ain fi’ilnya, yaitu tasyjid untuk menjadikan wazan “ فعّل ” missal: كبّر – قدّم 3) Menambahkan alif antara fa’ dan ‘ain fi’ilnya menjadi wazan “فاعل” misalnya: جا دل - دافع (saling) Sekarang, mengapa harus ditambah hamzah atau tasyjid ‘ain atau alif fi’ilnya? Sesungguhnya untuk setiap penambahan ini bermakna ringkasan seperti contoh sebagai berikut:  Makna-makna yang ditambahkan dengan hamzah (أفعل) Makna-makna yang terkenal tersebut adalah: 1. At- Ta’diyah, : yang menjadikan fi’il lazim menjadi objek, maka fi’il ( خرج) contohnya fi’il lazim tidak mengambil atau membutuhkan maf’ul bih. Contoh: خرج زيد maka penambahan hamzah menjadikannya fi’il muta’adi. Contoh : أخرجتُ زيدا  Apabila fi’il mujarrad dijadikan muta’adi dengan satu maf’ul bih atau objek menjadi (ditambah hamzah) muta’adi menjadi dua maf’ul bih atau objek, maka fi’il ( لبس) misalnya muta’adi dengan satu objek. Contoh : لبس زيد ثوبا Apabila tambahannya huruf hamzah dengan muta’adi untuk dua objek, contoh : ألبستُ زيدا ثوباً  Dan apabila fi’il muta’adi dengan dua maf’ul bih maka menjadi ( ditambah hamzah ) yang muta’adi dengan tiga maf’ul atau objek, maka fi’il ( عَلِمَ ) contoh (jika علم bermakna meyakinkan ) muta’adi dalam dua objek. Contoh : علمتُ زيداً كريماً Apabila tambahannya huruf hamzah, menjadi muta’adi dengan tiga maf’ul/ objek.contoh: أعلمت عمرا زيدا كريما 2. Memasukkan kedalam keterangan tempat dan waktu. Contohnya : أصبح - = دخل في الصباح - أبحر = دخل في البحر 3. Menunjukkan adanya sifat sesuatu pada sifat maknanya Contoh : أكرمت زيدا dan kamu bisa mengartikan: وجدت زيداً كريما 4. Menunjukkan makna negatif, menghilangkan makna fi’il maka jika kamu katakan “ شكى ” maka kamu menetapkan sifat keluh kesah kepada Zaid, dan jika kamu menambahkan hamzah pada fi’il maka أشكيتُ زيداً artinya saya menghilangkan sifat keluh kesahnya Zaid. 5. Menunjukkan suatu keharusan atau sudah boleh, contoh : أحصد الزرعُ artinya tanaman tidak boeh dipanen. 6. Menunjukkan arti banyak, contoh: كثر شجره artinya banyak pohonnya 7. Menunjukkan tujuan atau maksud, contoh: أبعت المنزل artinya menawarkan untuk dijual 8. Menunjukkan bahwasanya fa’il itu adalah pemilik sesuatu yang dibentuk dari fi’il, contoh: أثمر البستان artinya seperti memiliki buah 9. Menunjukkan atas pencapaian jumlah, contoh: أخمس العددartinya menjadi lima  Makna- makna yang ditambah tasyjid pada ‘ain fi’ilnya (فعّل). Makna-makna yang terkenal ini adalah : 1. Menunjukkan bentuk banyak dan berlebihan, contoh: طَوَّفَ artinya banyak berkeliling 2. Menunjukkan sangat, contoh: فرح زيد, وفرّته Maka jika fi’il muta’adi dengan satu maf’ul menjadi muta’adi dua maf’ul, contoh : 3. Menunjukkan maksud menghadap, contoh: توجّه شرقاً artinya menghadap ke timur 4. Menunjukkan sesuatu menjadi mirip dengan sesuatu yang lainnya bentuk dari fi’il, contoh: قوّس فلانا artinya seperti panah 5. Menunjukkan maksud jenis, contoh: كفّرت فلانا : dimasukkan seperti orang kafir 6. Menunjukkan maksud negatif, contoh: قشّرت الفاكهة : أزلت فشرتها 7. Ringkasan sebuah ucapan, contoh: هللّ : إلا اللهلاإله كبّر : الله أكبر  Makna- makna yang ada padanya alif di antara fa’ dan ‘ain fi’ilnya (fa’il) 1. Musyarakah: menunjukkan fi’il yang terjadi dari fa’il dan maf’ul secara bersama, contoh: ضَرَبَ زيد عمراً Bahwasanya makna kalimat ini زيداً ضرب عمراً, yaitu pukulan terjadi dari Zaid sendiri, زيد عمراً ضارب Bahwasanya arti kalimat ini adalah Zaid memukul Umar sebagaimana Umar memukul Zaid. Terjadi saling pukul diantara dua orang. Seperti dalam kata yang lain: قاتل, لاكم, جالس 2. Mutaba’ah: menunjukkan atas suatu perbuatan yang tidak terputus, contoh: واليتُ الصوم – تابعتُ الدرس 3. Menunjukkan atas sesuatu seperti satu sifat yang menunjukkan itu adalah fi’il • Dan kadang- kadang (فاعل) menunjukkan makna (فعل), contoh: Kedua, Mazid Tsulasi 2 Huruf: Apabila Mazid Tsulasi ditambah dua huruf maka ada 5 wazan: 1. إنفعل : dengan tambahan huruf alif dan nun, contoh: إنكسر, إنفتح, إنقاد 2. إفتعل : dengan tambahan hurif alif dan ta’, contoh: إفتتح, إفترش, إتخذ 3. تفاعل : dengan tambahan huruf ta’ dan alif, contoh: تقابل, تناول, تبايع 4. تفعَّلَ : dengan tambahan ta’ dan ‘ain double (tasyjid), contoh: تكبّر, تقدّم, توعّد 5. إفعلَّ : dengan tambahan alif dan lam double (tasyjid), contoh: إحمرّ, إصفرّ, إسودّ Dan tambahan- tambahan ini ada makna- makna  إنفعل : wazan ini tidak ada kecuali dalam fi’il lazim, contoh: إنطلق, apabila fi’il tsulatsi mujarrad muta’addi dan ditambah alif dan nun maka seperti fi’il lazim, dan faedah muthawa’ah (taat) bahwasanya pengaruh fi’il itu muncul atas maf’ulnya maka bahwasanya sebagai jawabannya, oleh karena itu nun ini dinamakan nun muthawa’ah, contoh: الشيء فانكسر – وفتحته فانفتحكسرتُ  إفتعل : dan makna- makna yang terkenal adalah: 1) Muthawa’ah (taat) adalah mematuhi fi’il tsulatsi, contoh: جمعته فاجتمع – ولفته فلتفت Dan mematuhi fi’il tsulatsi mazid dengan hamzah (أفعل), contoh: أنصفته فانتصف – وأسمعته فاستمع Dan mematuhi fi’il tsulatsi yang ‘ainnya double (tasyjid), contoh: قرّبته فاقترب 2) Isytirak (berserikat atau kerjasama), contoh: إقتتل زيد و عمرو – إختلف زيد و عمرو (dan dari penjelasan tersebut bahwasanya wazan ini (فاعل) menunjukkan wazan dari Musyarakah selain isim mansub, adapun isim di sini berserikat dengan fa’il rafa’ dari jalan ‘athaf (diberi tanda ‘athaf). 3) Al- Ittikhadz (pengmbilan), contoh: إمتطى : mengambil مطية 4) Al-Mubalaghah (penyangatan) dalam makna fi’il, contoh: إقتلع, إكتسب, إجتهد  تفاعل, dan makna- makna yang terkenal adalah: 1) Musyarakah (berserikat) dua orang atau lebih, contoh: تقاتل زيد و عمرو – تجادل زيد و عمرو وعلى 2) At- Tadhahur (tampak berpura- pura), maknanya berpura- pura mempunyai sifat dalam fi’il itu tetapi bukan arti sebenarnya, contoh: تناوم – تكاسل – تجاهل - تعامى 3) Menunjukkan sisipan yaitu fi’il yang terjadi terus- menerus, contoh: تزايد المطر – تواردت الأخبر 4) Muthawa’ah, yaitu mengikuti wazan (فاعل), contoh: باعدته فتباعد – واليته فتوالى  تفعّل, dan makna- makna yang terkenal adalah: 1) Muthawa’ah, yaitu mengikuti wazan (فعّل), contoh: أدبحته فتأدّب – علمته فتعلّم 2) At-Takalluf (beban) yaitu fi’il yang menunjukkan suatu keinginan dalam mencapainya dan bersungguh- sungguh dengan cara itu dan tidak terdapat kecuali di dalam sifat- sifat yang terpuji, contoh: تصبّر – تشجّع – تجلّد - تكرّم Bahwasanya tidak terdapat sifat- sifat yang dibenci seperti الجهل – القبح - البخل 3) Al-Ittikhadz, contoh: تسنّم فلانا المجد – إتخذ سناما 4) At-Tajannub: yaitu fi’il yang menunjukkan arti meninggalkan dan menjauhinya, contoh: تهجَّدّartinya meninggalkan tidur malam تأثم artinya meninggalkan dosa  إفعلَّ, wazan ini tidak ada kecuali fi’il lazim dan ada dari fi’il- fi’il yang menunjukkan atas warna- warna dan aib dengan maksud (penyangatan), contoh: اسمرّ – ابيضّ - اعرجّ Ketiga, Mazid Tsulatsi dengan tiga huruf Mempunyai empat wazan, yaitu: 1) إستفعَلَ dengan tambahan alif, sin, dan ta’, contoh: إستغفر - إستمدّ 2) إفعوعل dengan tambahan alif, wawu, dan pengulangan huruf nun (tasyjid), contoh: إخشوشن - إغدودن 3) إفعالَّ dengan tambahan alif washal, alif dan pengulangan huruf lam (tasyjid), contoh: إحمارَّ - إخضارَّ 4) إفعوّل dengan tambahan alif dan wawu double, tetapi jarang digunakan, contoh: إجلوّزَ - إعلوّط dan empat wazan ini menunjukkan makna- makna, adapun tiga yang terakhir menunjukkan mubalaghoh (penyangatan) di dalam fi’il asli, contoh: إعشوشب menunjukkan tambahan pada الشعب إحمار menunjukkan tambahan pada الحمرة Adapun (إستفعل) mempunyai makna- makna yang terkenal, yaitu: 1) At-Thalabu (permintaan), contoh: إستغفر meminta ampunan إستفهم meminta pertanyaan 2) At- Tahwil dan At- Tasybih ( berubah dan menyamai), contoh: إستحجر الطين seperti batu 3) I’tiqadus shifah (meyakini sebuah sifat), contoh: إستكرمته : aku yakin bahwa dia orang yang mulia 4) Al- Muthawa’ah (taat), yaitu mengikuti wazan (أفعل), contoh: أحكمته فاستحكم أقمته فاستقم 5) Ikhtisharul hikayah (meringkas perkataan), contoh: إسترجع ucapan ناّ للهِ و إناّ إليه راجعونإ • Kadang- kadang wazan ini bermakna wazan tsulatsi, contoh: أنس واسنأس- يئس واستيأس • Kadang- kadang bermakna (أفعل), contoh: أجاب واستجاب – أيقن واستيقن B. Mazid Ruba’i Fi’il Mujarrad Ruba’i yang ditambahi satu huruf atau dua huruf 1) Adapun Ruba’i yang ditambahi satu huruf saja maka wazannya juga satu saja yaitu (تفعْلَلَ) dengan ditambah huruf ta’ pada awalnya dan menunjukkan atas fi’il mujarrad muthawa’ah (taat), contoh: دخرجته فتدخرج – بعثرته فتبعثر 2) Adapun Ruba’i yang ditambah dua huruf maka ada dua wazan, yaitu: a) إفعنلل dengan tambahan alif dan nun, dan juga menunjukkan atas fi’il mujarrad muthawa’ah (taat), contoh: حرجمت الإبل فارنجمت b) إفعلَلَّ dengan tambahan alif dan tiga lam di akhinya, dan menunjukkan atas mubalaghah (penyangatan), contoh: إطمأنَّ - إقشعرَّ • Untuk wazan- wazan fi’il mazid ruba’i tambahan dikembalikan ke wazan-wazan fi’il mujarrad ruba’i tambahan yang kami isyaratkan kepadanya dalam tempatnya. • Makna- makna yang telah kami sebutkan untuk huruf- huruf tambahan sesungguhnya hanyalah makna- makna dalam bentuk ijtihad yang disampaikan oleh para ahli sharaf sebagai hasil penggunaan yang biasa digunakan, makna- makna tadi bukan makna kiasan yang bertentangan, padahal sebagiannya masuk ke sebagian yang lain, dan tambahan- tambahan ini dalam keadaan apapun dibutuhkankan pembahasan lingustik secara terperinci. إسناد الأفعال إلي الضمائر Kami mengemukakan dua bentuk perubahan fi’il dari segi shahih dan mu’tal, dan pembagian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pelajaran sharaf, pada dasarnya dapat dipahami dengan seksama apa yang diurutkan atasnya fi’il mujarrad dan mazid, isnad dan isytiqaq, mu’tal dan ibdal. Dan materi sharf mengkhususkan isnad fi’il- fi’il kepada dhamir-dhamir ketika terjadi perubahan-perubahan yang masuk pada fi’il–fi’il ketika disandarkan, dan dari penelitian kebanyakan dari murid–murid salah dalam penggunaan isnad ini seperti pemahamannya untuk pembagian fi’il shahih dan mu’tal. Kami memberikan kaidah–kaidah Isnad sebagai berikut : 1. Fi’il Shahih Salim Fi’il ini tidak berubah secara mutlak dengan isnadnya : المتكلم : كتبت – كتبنه أكتب – نكتب المخاطب : كتبت – كتبت – كتبتما – كتبتم – كتبتن تكتب – تكتبين – تكتبان – تكتبون – تكتبن أكتب – أكتبى – أكتبا – أكتبوا – أكتبن الغائب : كتب – كتبا – كتبوا – كتبت – كتبتا – كتبن يكتب - يكتبان – يكتبون – تكتب - تكتبان – يكتبن 2. Mahmuz Fi’il Mahmuz – seperti kami sebutkan sebelumnya – yaitu fi’il yang salah satu hurufnya hamzah, pada fa’, ‘ain, atau lam. Dan hukumnya pada isnad ilad dhamir adalah inti hukum fi’il salim yaitu tidak berubah sesuatupun di dalamnya pada fi’il madhi, mudhari’ atau amr. Kami mengatakan pada isnad fi’il (قرأ) seperti ; المتكلم : قرأت – قرأنا أقرأ – نقرأ المخاطب : قرأت – قرأت – قرأتما – قرأتم – قرأتنّ تقرأ – تقرأين – تقرءان – تقرئون – تقرأن إقرأ – إقرئ – إقرءا – إقرأوا – إقرأن الغائب : قرأ – قرءا – قرأوا – قرأت – قرأنا – قرأن يقرأ – يقرأين – يقرءان - تقرءان – يقرأن Selain yang telah disebutkan di atas ada sebagian fi’il – fi’il mahmuz yang mempunyai hukum – hukum khusus pada sebagian perubahan ( tasrif) kami memberi contoh sebagai berikut : • أخذ – أكل Dua fi’il ini hilang hamzahnya dalam bentuk fi’il amr saja, kami mengatakan : خذ – خذى – خذا – خذوا – خذن (على وزن عل) كل – كلى – كلا – كلوا – كلن • أمر – سأل Menghilangkan hamzahnya dalam bentuk amr juga dengan syarat bahwa kata tersebut berada di awal kalimat : مر- مرى – مرا – مروا – مرن (على وزن عل) سل - سلى – سلا – سلوا – سلن (على وزن فل) Adapun jika sebelumnya kalimat yang benar maka hilang hamzah, boleh dibiarkan dan kebanyakan memang dibiarkan : قلت له اؤمر - قلت لها اؤمرى - قلت لهما اؤمرا ...... إلخ قلت له أسأل - قلت لها أسألى - قلت لهما أسألا ...... إلخ • رأى Fi’il ini hilang hamzahnya pada fi’il mudhari’ dan amr, dan masih tetap ada pada fi’il madhi dan bentuk fi’il mudhari’nya adalah يرأى dan para ahli sharaf mengatakan jika harakat hamzah berpindah ke huruf ra’, maka huruf hamzah menjadi sukun, dan huruf ra’ berharakat fathah, maka bertemu dua huruf sukun: hamzah dan alif yang kedua huruf tersebut adalah lam fi’il. Maka dibuang salah satu dua huruf sukun tersebut yaitu hamzah dan menjadi sebuah fi’il : يرى pada wazan يفل Adapun pada bentuk fi’il amr dari fi’il ( رأي ) maka wajib menjadi إرأ , karena fi’il naqish yaitu yang huruf akhirnya adalah huruf illah, dan dia (huruf illah) dihilangkan pada fi’il amr. Kemudian mereka berkata sesungguhnya ada di dalamnya apa-apa yang ada dalam fi’il mudhari’ yaitu dipindah harakat hamzah ke huruf ra’, kemudian dihilangkan hamzahnya, maka menjadi fi’il (رَ) pada wazan فَ dan kebanyakan mengikuti huruf ha’ (ه) yang terkenal dengan ha’ saktah maka menjadi (رَه) pada wazan فَه . • أرى Fi’il ini ditambah dengan huruf hamzah dari fi’il (رأى) dan wajib bahwasanya أر yaitu pada wazan أفعل. Selain huruf hamzah yang ‘ain fi’il dihilangkan pada semua bentuk perubahannya, pada fi’il madhi, mudhari’, dan amr, kami mengatakan : الماضى : على وزن أفل أريتُ – أريتَ – أريتُما – أرينا.....إلخ المضارع : يرى على وزن يفل أَرِى – تُرِى - تُرِىان.....إلخ الأمر : أرِ – أرِي - أرِيا.....إلخ 3. Mudha’af Mudha’af ada dua macam a) Mudha’af Tsulatsi : yaitu yang ‘ain fi’ilnya seperti lam fi’ilnya, contoh : مدّ – شدّ b) Mudha’af Ruba’i : yaitu yang fa’ dan lam fi’ilnya yang pertama sejenis, dan ‘ain dan lam fi’ilnya yang kedua dari jenis yang lain, Contoh : وسوس – زلزل Mudha’af Ruba’i tidak berubah pada perubahan katanya seperti fi’il mitsal salim, قهقهت – قهقهنا – أقهقه – نقهقه – قهقه - ...........إلخ Sedangkan Mudha’af Tsulatsi mempunyai hukum- hukum yang kami berikan dalam contoh sebagai berikut : • Madhi : memisahkan huruf yang beridgham apabila bersambung dengan dhamir rafa’ muharik yaitu bersambung ta’ fa’il,na fa’ilain, an nun niswah, مررتُ – مررتَ – مررتِ – مررنا – مررنَ Dan wajib dimasukkan pada selain itu, yaitu dalam keadaan- keadaan berikut : a. Apabila disandarkan pada isim dzhahir, contoh : مرّ علىٌ – شدّ محمدٌ – جدّ زيدٌ b. Apabila disandarkan pada dhamir mustatir, contoh : علىٌ مرّ – محمدٌ شدّ – زيدٌ جدّ c. Apabila disandarkan pada dhamir rafa’ mutashil yang sukun, yaitu kepada alif itsnain dan wawu jama’, contoh الزيدان مرّا - الزيدون مرّوا d. Apabila disambungkan dengan ta’ ta’nits, contoh : مرّت فاطمة – جدّت زينب • Mudhari’ : memisahkan huruf yang beridgham apabila bersambung dengan nun niswah, البنات يمررْنَ – يشددْن – يجددْن Wajib di idghamkan (di masukkan ) pada keadaan- keadaan berikut : a. Apabila bersambung dengan alif itsnain atau wawu jama’ atau ya’ mukhatabah yaitu jika satu fi’il dari af’alul khamsah, contoh : يمرّان – يمرّون – تمرّين يجدّان – يجدّون – تجدّين b. Apabila disandarkan pada isim dhahir atau dhamir mustatir dan tidak menjadi majzu ( fi’il mudhari’ yang berharakat sukun) يمرُّ محمد – لن يمرَّ محمد محمد يمرُّ – محمد لن يمرَّ Boleh di dalamnya diidghamkan dan dipisahkan apabila disandarkan pada isim dzhahir atau dhamir mustatir dan menjadi majzum, لم يمرَّ محمد - لم يمررْ محمد محمد لم يمرَّ - محمد لم يمررْ • Amr : a. Wajib memisahkan huruf yang diidghamkan apabila disandarkan pada nun niswah, أمرُرْنَ – أشدَدْن – أجدِدْن b. Wajib diidghamkan apabila disandarkan pada alif itsnain atau wawu jama’, atau ya’ mukhathabah, مرّا – مرّوا - مرى c. Boleh diidghamkan dan dipisahkan apabila disandarkan pada mufrad mukhathabah, مرّ – جِد – ظَلّ امرّر – اجِدد – اظَلل إسناد الفعل المعتل 1. Fi’il Mitsal Telah kami kemukakan fi’il mitsal adalah fi’il yang fa’ fi’ilnya wawu atau ya, contoh : وصف – يئس dan berlaku hukum- hukumnya sebagai berikut : • Madhi : tidak berubah di dalamnya sesuatupun yaitu fi’il mitsal shohih salim, وصفتُ – وصفتَ – وصفنا – وصفن..........إلخ يئستُ – يئستَ – يئسنا – يئسن..............إلخ • Mudhari’ dan Amr a. Apabila fa’ fi’ilnya ya’ tidak berubah di dalamnya sesuatupun, أيأس – ييأس – تيأسان – تيأسْن...........إلخ أيأس – أيأسى – أيأسا – أيأسوا - أيأسن b. Apabila fa’ fi’ilnya wawu, maka sesungguhnya dihilangkan dari fi’il mudhari’ dan amr dengan dua syarat :  Menjadi madhi tsulatsi mujarrad  Menjadi ‘ain mudhari’ maksurah Kami katakan pada (ورث) contoh (المضارع) أرث – نرث – ترث – ترثون – ترثن – يرث – يرثان – يرثون. Dan ini mengikuti wazan يرث : يعِلُ (الأمر) رث – رثا – رثوا – رثى – رثن Dan ini mengikuti wazan عِلْ Maka apabila tidak sempurna dua syarat itu, yaitu menjadi fi’il madhi mazid, atau ‘ain fi’ilnya menjadi berharakat fathah atau dhammah pada mudhari’, masih tetap wawu tidak dibuang. Maka untuk fi’il (وَاعد) bukan mujarrad karena mazid dengan tambahan huruf alif dan pada wazan (فاعل) , ketika isnadnya di fi’il mudhari’ dan amr tidak dihilangkan wawunya, (المضارع) أُواعد – نواعد – يواعد ..... على وزن (يُفاعل) (الأمر) واعِد – واعِدى – واعِدوا ..... على وزن (فاعِل) والفعلان ( وَجُهَ – وَقُحَ ) mudhari’nya( يَوجُه – يَوقُح) yaitu ‘ain fi’ilnya berharakat dhammah pada fi’il mudhari’ dan pada keadaan ini wawu tidak dihilangkan dalam fi’il mudhari’ dan amr, (المضارع) : أوجُهُ – نوجُهُ – يوجُهُ ..... على وزن يَفعُلُ (الأمر) : أوجُه – اوجُهى – اوجُها ..... على وزن أفعُل Dan fi’il (وَجَلَ) mitsal fi’il mudhari’nya (يَوجَلُ) yaitu ‘ain fi’ilnya berharokat fathah pada fi’il mudhari’,, wawunya tidak dihilangkan juga pada fi’il mudhari’ dan amr, (المضارع) : أَوْجَلُ – نوْجَلُ – يوْجَلُ ...... على وزن يَفعَلُ (الأمر) : أَوْجَلْ – أَوْجَلى – أَوْجَلا ..... على وزن أفعَل Selain kita perhatikan bahwa fi’il – fi’il yang sering dipakai sekarang, ‘ain fi’ilnya berharakat fathah pada fi’il mudhari’, wawunya dihilangkan pada fi’il mudhori’ dan amr, dan contoh fi’il- fi’il itu sebagai berikut : وسِع – وَطِئَ – وهب – وَدَعَ – وَقَعَ – وَضَعَ (المضارع) : يسَع – يَطَأَ – يهب – يدَعَ – يقَعَ – يضَعَ ( يَعَلُpada wazan ) (الأمر) : سَعْ – طَأْ – هَبْ – دَعء – قَعْ – ضَعْ (عَلْpada wazan ) 2. Fi’il Ajwaf Kami telah kemukakan bahwasanya fi’il ajwaf adalah fi’il yang ‘ain fi’ilnya wawu atau ya’, dan ‘ain ini masih ada sebagaimana diganti alif menurut kaidah- kaidah huruf ‘illah. Dan demikian semuanya sama dengan fi’il mujarrad dan mazid, dan dari fi’il- fi’il yang masih ada ‘ain fi’ilnya yaitu, حَوِلَ – عَوِرَ – حاَول- تحاور حَيدَ – باَيع – شاَيع – تبايَع dan fi’il ini tiak berubah di alamnya sesuatupun ketika disandarkan pada setiap perubahan kata, misal : (الماضى) : عَرِرْتَ – حاَولتُ – تحاورنا – حَيدتُ – تبايَعوا (المضارع) : تعور – أحاَول – نتحاور – أحيد – يتبايَعون Adapun jika ‘ain fi’ilnya diganti alif, contoh : قال – باع – خاف - استشار Jika isnadnya menjadi seperti pada contoh berikut : Madhi : menghilangkan ‘ain fi’ilnya jika bersambung dengan dhamir rafa’ mutaharik قُلْتُ – قُلْنا – بعتُ – خفتُ – استشرْر dan menjadi wazan mujarrad - قُلْتُ atau قِلْتُ ,dengan dhammah alif atau dengan kasrahnya mengikuti ‘ain fi’il Mudhari’ dan Amr : menghilangkan ‘ain fi’ilnya pada fi’il mudhari’ jika menjadi jazm dengan sukun, demikian juga pada fi’il amr jika tetap (mabni) atas sukun, لم أقلْ – لم نبِع – لم يخَفْ – لم ينتشرْ قُل – بِع – خَف – انتشِر (أَفُل – فُل) dan pada wazan dan dalam jika kembali maka ‘ain fi’ilnya tetap ada, bahwasanya kembali ke bentuk aslinya pada fi’il mudhari’ dan amr, contoh أقُول – لن نبيعَ – لم يخافا – لم ينتَشِروا قولا – بيعوا – خافى أقول = أفعُلُ - نبيع = نفعِلُ pada wazan 3. Fi’il Naqish Yaitu fi’il yang lam fi’ilnya huruf ’illah, dan huruf ini adalah alif, wawu, ya’ Madhi : apabila lam fi’ilnya alif, contoh سعى – دعا - استسقى a) Apabila disandarkan kepada wawu jama’ atau menyusulnya ta’ ta’nits, hilang lam fi’ilnya, dan diberi harakat yang sebelunmya dengan fathah yang menunjukkan atas alif yang terbuang (hilang) سعَوْا – دعَوْا – استسقَوْا – (فَعَوْا) سعَت – دعَت - – استسقت (فَعَت) b) Apabila disandarkan kepada selain wawu maka kami memandang jika fi’il tsulatsi, alif dikembalikan ke bentuk aslinya yaitu kembali kepada wawu atau ya’, سعَيتُ – دعَوْنا - رميْتُمْ Apabila fi’il mazid tsulatsi, alif selalu diubah ya’ أعطيتُ – استسقينا - تشاكيا Apabila lam fi’ilnya wawu atau ya’, contohزكو و رضي , maka penyandarannya seperti contoh berikut : • Apabila disandarkan kepada wawu jama’ hilang lam fi’ilnya, dan diberi harakat huruf sebelumnya dengan dhammah untuk disambung wawu jama’ah, نهُوا – رضُوا – بقُوا (فَعُوا) • Apabila disandarkan kepada selain wawu yang masih tetap ada lam fi’ilnya atas huruf aslinya, نهُوتَ – نهْوَا – رضيتُ – رضيتُم Mudhori’ dan Amr • Apabila lam fi’ilnya alif, contoh يسعى dan يخشى , maka penyandarannya seperti contoh berikut : a) Apabila disandarkan kepada wawu jama’ ya’ mukhathabah, dihilangkan huruf alif dan tersisa huruf yang sebelumnya berharakat fathah, يسعون – يخشون (يفعون ) تسعين – تخشين ( تفعين ) اسعوا - اسعى b) Apabiala disandarkan kepada huruf alif itsnain ( dua) atau nun niswah, atau diikuti nun taukid diubah alif ya, يسعيان – يسعين – لتسعينَّ – يخشيان - – يخشين - – لتخشينَّ اسعيا – اسعين - اسعينَّ • Apabila lam fi’ilnya wawu atau ya’, contoh يدعو dan يرمى , maka penyandarannya seperti contoh berikut : a) Apabila disandarkan kepada wawu jama’ atau ya’ mukhathabah, dihilangkan lam fi’ilnya yaitu wawu dan ya’, dan diberi harakat huruf sebelum wawu jama’ dengan dhammah, dan huruf sebelum ya’ mukhathabah dengan kasrah, contoh : يدعون – يرمون (يفعون) تدعين – ترمين (تفعين) ادعوا – ارموا (افعوا) ادعى – ارمى (افعى) b) Apabila disandarkan kepada alif itsnain ( dua ) atau nun niswah masih tetap ada lam fi’ilnya, contoh يدعوان - يرمبان – ادعوَا – ارمياَ يدعون – يرمين – ادعون - ارمين ( untuk lebih jelasnya bahwa wazan يدعون disana adalah يفعلن karena wawu adalah lam fi’ilnya, atau kebalikannya يدعون yang telah dijelaskan sebelumnya adalah atas wazan يفعون karena wawu bukan lam fi’ilnya tetapi ia adalah wawu jama’( 4. Fi’il Lafiif a) Lafif Mafruq : yaitu fi’il yang lam dan fa fi’ilnya huruf ‘illah. dan penyandarannya digunakan seperti fi’il mitsal dari segi fa’ fi’ilnya dan fi’il naqish dari segi lam fi’ilnya, kami kemukakan fi’il (وقى) contoh : (المضى) : وقيتُ – وقينا – وقوا ............إلخ (المضارع) : أقى – نقى – يقيان – يقون ............إلخ (الأمر) : قِه – قِيا – قوا Pada wazan(عِه – عِلا - عوا) b) Lafif Maqrun : yaitu fi’il yang ‘ain dan lam fi’ilnya huruf illah dan digunakan dalam fi’il naqish dari segi lam fi’ilnya, dan masih ada ’ain fi’ilnya tanpa ada perubahan, contoh : (المضى) : طويت – طوينا – طوَوْا – طوت (المضارع) : أطوى – نطوى – يطوون – تطوين – لم أطوِ - لم نطوِ - لم يطووا - لم تطوِى (الأمر) : : إطو – إطوىا – إطووا – إطوي

1 comment:

  1. aduuuhh susah bacanya.. format penulisannya diperbaiki donk..

    ReplyDelete