Sunday, 20 May 2012

Balaghah : Ilmu Bayan


FASHAHAH
·     Definisi : Jelas dan terang. Kalimat yang fasih adalah kalimat yang jelas maknanya, mudah bahasanya, dan baik susunannya. Oleh karena itu, setiap kata dalam kalimat yang fasih mesti sesuai dengan pedoman sharaf1, jelas maknanya, komunikatif, mudah lagi enak.
·     Empat syarat predikat fashahah :
(1)   Untuk mencapai predikat fashahah, suatu kalimat di samping harus terdiri atas kata-kata yang sesuai dengan kaidah sharaf yang benar dan mudah dipahami, diisyaratkan harus terlepas dari rangkaian yang lemah, yakni keluar dari kaidah bahasa yang berlaku, seperti kembalinya dhamir (kata ganti) kepada lafaz yang berada di depannya, baik dalam ungkapan maupun dalam kedudukannya, sebagaimana dalam ucapan sayyidina Hasan r.a2 berikut:
ولو آنّ مجدا اخلد الدّهر واحدا من النّاس آبقى مجده الدّهر مطعما
(Seandainya kemuliaan seseorang itu dapat menjadikannya panjang umur, maka kemudian mu'thim akan dapat memperpanjang kehidupannya).
Dhamir pada kata ‘majduhu’ adalah kembali kepada kata ‘mu’thim’ kata yang terakhir ini dengan jelas terungkapkan setelah dhamirnya, dan dari segi kedudukannya dalam kalimat juga jatuh setelahnya karena menjadi maf’ul bih. Oleh karena itu, syair di atas tidak fasih.
(2)   Diisyaratkan juga susunan kalimatnya tidak terdiri atas kata-kata yang tanafur3 sehingga hubungan satu kata dengan kata lainnya tidak menimbulkan kalimat itu sulit didengar dan diucapkan. Contoh kalimat yang terdiri atas kata-kata yang tanafur adalah syair berikut:
وقبر حرب بمكان قفر و ليس قرب قبر حرب قبر
(Kubur musuh berada di tempat yang sunyi. Dan tidak ada kubur lain di dekat kubur musuh itu).
Suatu pendapat menyatakan bahwa syair ini tidak mudah dibaca seseorang tiga kali secara terus menerus tanpa kesulitan karena dalam syair ini berkumpul beberapa kata yang huruf-hurufnya berdekatan makhrajnya. Dengan demikian, menimbulkan kesulitan yang sangat; padahal bila kata-kata itu diucapkan secara terpisah, tidaklah menimbulkan kesulitan dan tidak menyusahkan.
(3)   Kalimat yang fasih adalah kalimat yang tidak rancu susunannya. Kalimat yang rancu yaitu kalimat yang tidak jelas maksudnya. Karena sebagian kata-katanya didahulukan atau diakhirkan dari tempatnya semula, atau kata-kata yang seharusnya berdekatan menjadi terpisah-pisah seperti kalimat:
ماقرآإلاّ واحدا محمّد مع كتابا أخيه
(Tidak membaca kecuali satu Muhammad bersama kitab saudaranya).
Kalimat ini tidak fasih karena susunan kata-katanya rancu. Aslinya adalah
ماقرأ محمّد مع أخيه إلاّ كتابا واحدا
(Muhammad tidak membaca bersama saudaranya kecuali sebuah kitab).
Kata sifatnya didahulukan daripada kata yang disifatinya. Di samping itu, ada beberapa kata yang seharusnya bersamaan ternyata dipisahkan, yakni adatul-istisna’ (kata sambung untuk mengecualikan) dipisah dengan mustasna-nya (kata yang dikecualikan) dan mudhaf (kata yang bersandar) dengan mudhaf ilaih (kata yang disandari).
Kalimat yang fasih harus terbebas dari kerancuan makna, seperti bila si pembicara bermaksud mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata yang dipakai tidak menunjukkan hakikat makna yang dimaksud sehingga ungkapannya membingungkan dan bisa mengundang kesalahpahaman bagi pendengar. Contohnya kata al-lisaan kadang-kadang dikatakan dengan arti bahasa, sebagaimana firman Allah Swt QS Ibrahim ayat 4. Pemakaian seperti ini adalah benar dan fasih. Namun bila kata ini dikatakan untuk makna mata-mata, umpanya dikatakan:
بثّ الحاكم السنته في المدينة
(Hakim memasang beberapa orang mata-matanya di kota itu).
Maka pemakaian kata-kata seperti ini tidak dibenarkan dan kalimatnya mengandung kerancuan makna. Contoh lain adalah syair yang diungkapkan oleh Imri’ul Qais4 dalam menyifati kuda:
وأركب في الرّوع خييفنة كساوجهها سعف منتشر
(Dengan terkejut saya naik kuda sekurus pelepah kurma, yang wajahnya tertutup oleh bulu ubun-ubunnya yang seperti ranting-ranting kurma yang terurai).
Makna asli alkhoifanah adalah pelepah kurma. Dalam syair ini yang dimaksud adalah kuda yang kurus. Hal ini tidak menjadi masalah, meskipun menyerupakan kuda dengan pelepah kurma itu mengandung kelemahan. Yang tidak dapat diterima adalah menyifati kuda tentang rambut ubun-ubunnya sepanjang ranting-ranting kurma dan menutupi wajahnya, karena telah dikenal di kalangan orang Arab bahwa kuda yang rambut ubun-ubunnya sampai menutupi wajahnya bukanlah kuda yang mulia dan gemuk. Diantara kalimat yang rancu maknanya adalah pernyataan Abu Tammam5:
جذبت نداه غدوة السّبت جذبة فخرّ صريعا بين أيدى القصائد
(Saya pancing kemurahannya dengan sungguh-sungguh pada sabtu pagi. Maka ia jatuh pingsan ketika mendengar beberapa qasidah).
Dalam pernyataan di atas, si penyair tidak henti-hentinya membacakan syair hingga kemurahan orang yang dipujinya itu jatuh pingsan. Pernyataan dengan kalimat demikian adalah pernyataan yang paling jelek.


BALAGHAH
·      Definisi : Balaghah mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi bekas yang berkesan di lubuk hati, dan sesuai dengan situasi, kondisi dan orang-orang yang diajak bicara. Secara ilmiah, balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar diantara macam-macam uslub (ungkapan). Kebiasaan mengkaji balaghah merupakan modal pokok dalam membentuk tabiat kesastraan dan menggiatkan kembali beberapa bakat yang terpendam.
·      Unsur-unsur Balaghah adalah kalimat, makna dan susunan kalimat yang memberikan kekuatan, pengaruh dalam jiwa, dan keindahan. Juga kejelian dalam memilih kata-kata dan uslub sesuai dengan tempat bicaranya, waktu, tema, kondisi para pendengar dan emosional yang dapat mempengaruhi dan menguasai mereka. Pada masa yang lalu para sastrawan tidak menyenangi penggunaan kata ‘aidhan’. Mereka menganggap kata tersebut monopoli para ilmuwan. Oleh karena itu, mereka tidak mau menulisnya dalam syair maupun tulisan prosa mereka.
Suatu hal yang perlu diperhatikan dengan serius oleh seorang ahli balaghah adalah mempertimbangkan beberapa ide yang bergejolak dalam jiwanya. Ide yang dikemukakan itu harus benar, berbobot dan menarik sehingga memberi kesan sebagai hasil kreasi seseorang yang berwawasan utuh dan bertabiat lembut dalam merangkai dan menyusun ide. Setelah hal itu diselesaikan, kemudian memilih kata-kata yang jelas, meyakinkan, dan sesuai. Lalu menyusunnya dengan susunan yang indah dan menarik. Jadi, balaghah itu tidak terletak pada kata per kata, juga tidak pada makna saja, melainkan balaghah adalah kesan yang timbul dari keutuhan paduan keduanya dan keserasian susunannya.

USLUB
·      Definisi : Uslub adalah makna yang terkandung pada kata-kata yang terangkai sedemikian rupa sehingga lebih cepat mencapai sasaran kalimat yang dikehendaki dan lebih menyentuh jiwa para pendengarnya. Uslub juga dikenal dengan gaya bahasa.
·      Tiga macam uslub:
(1)   Uslub Ilmiah : Uslub ini adalah uslub yang paling mendasar dan paling banyak membutuhkan logika yang sehat dan pemikiran yang lurus dan jauh dari khayalan syair. Karena uslub ini berhadapan dengan akal dan berdialog dengan pikiran serta menguraikan hakikat ilmu yang penuh ketersembunyian dan kesamaran. Kelebihan yang paling menonjol dari uslub ini adalah kejelasannya. Dalam uslub ini harus jelas faktor kekuatan dan keindahannya. Kekuatannya terletak pada pancaran kejelasannya dan ketepatan argumentasinya. Sedangkan keindahannya terletak pada kemudahan ungkapannya, kejernihan tabiat dalam memilih kata-katanya, dan bagusnya penetapan makna dari berbagai segi kalimat yang cepat dipahami. Untuk uslub ini sebaiknya dihindari pemakaian kata atau kalimat majaz dan badi’ yang dibagus-baguskan kecuali bila tidak diprioritaskan dan tidak sampai menyentuh salah satu prinsip atau kekhasan uslub ini. Biasanya uslub ini digunakan dalam buku-buku berwacana ilmiah, buku kuliah, sekolah dan pendidikan.
(2)   Uslub Sastra : Dalam uslub jenis ini keindahan adalah salah satu sifat dan kekhasannya yang paling menonjol. Sumber keindahannya adalah khayalan yang indah, imajinasi yang tajam, persentuhan beberapa titik keserupaan yang jauh di antara beberapa hal dan pemakaian kata benda atau kata kerja yang kongret sebagai pengganti kata benda atau kata kerja yang abstrak. Secara garis besar uslub ini harus indah, menarik inspirasinya dan jelas serta tegas. Orang-orang yang baru terjun ke dalam dunia sastra banyak yang beranggapan bahwa uslub itu akan semakin baik bila banyak memakai kata-kata majaz, tasybih (penyerupaan) dan jauh khayalannya. Anggapan ini sangat keliru, sebab hilangnya keinahan uslub ini kebanyakan justru karena dibuat-buat dan diada-adakan dan tidak ada yang merusak keindahannya yang lebih jelek dari pada kesengajaan menyusunnya. Kami yakin bahwa syair berikut ini tidak menarik perhatian kita:
فأمطرت لؤلوا من نرجس وسقت وردا وعضّت على العنّاب باالبرد
(Air matanya yang bagaikan butir-butir mutiara bunga narjis turun membasahi pipinya yang putih kemerah-merahan bagaikan bunga mawar dan jari jemari tangannya yang lentik itu digigitkan ke giginya yang putih bagaikan salju).6
(3)   Uslub Khithabi : Dalam uslub ini sangat menonjol ketegasan makna dan redaksi, ketegasan argumentasi dan data dan keluasan wawasan. Dalam uslub ini seorang pembicara dituntut dapat membangkitkan semangat dan mengetuk hati para pendengarnya. Keindahan dan kejelasan uslub ini memiliki peran yang besar dalam mempengaruhi dan menyentuh hati. Di antara yang memperbesar peran uslub ini adalah status si pembicara dalam pandangan para pendengarnya, penampilannya, kecemerlangan argumentasinya, kelantangan dan kemerduan suaranya, kebagusan penyampaiannya dan ketepatan sasarannya. Di antara yang menentukan kelebihan uslub ini yang menonjol adalah pengulangan kata atau kalimat tertentu, pemakaian sinonim, pemberian contoh masalah, pemilihan kata-kata yang tegas. Baik sekali uslub ini bila diakhiri dengan pergantian gaya bahasa dari kalimat berita menjadi kalimat tanya, kalimat berita yang menyatakan kekaguman, atau kalimat berita yang menyatakan keingkaran.


Bagian Pertama
ILMU BAYAN
BAB I
TASYBIH (PENYERUPAAN)
·      Definisi : Tasybih adalah penjelasan bahwa suatu hal atau beberapa hal memiliki kesamaan sifat dengan hal yang lain. Penjelasan tersebut menggunakan huruf ك atau sejenisnya baik tersurat maupun tersirat.
·      Unsur-unsur Tasybih : Unsur Tasybih ada empat yaitu musyabbah, musyabbah bih (kedua unsur ini disebut sebagai tharafait-tasybih/dua pihak yang diserupakan), adat tasybih, dan wajah syibeh. Wajah syibeh pada musyabbah bih diisyaratkan lebih kuat dan lebih jelas daripada musyabbah.
Kosakata :
1.     Musyabbah : Sesuatu yang hendak diserupakan.
2.     Musyabbah bih : Sesuatu yang diserupai.
3.     Wajah Syibeh : Sifat yang terdapat pada kedua pihak.
4.     Adat Tasybih : Huruf/kata yang menyatakan penyerupaan.
Contoh dalam syair:
Al-Ma’arri menyatakan tentang seseorang yang dipujanya:
أنت كالشّمس فى الضّياء وإنجا وزت كيوان فى علوّ المكان
(Engkau bagaikan matahari yang memancarkan sinarnya walaupun kau berada di atas planet Pluto di tempat yang paling tinggi).
Syair di atas menjelaskan bahwa si penyair tahu orang yang dipujanya memiliki wajah bercahaya dan menyilaukan mata, lalu ia ingin membuat perumpamaan yang memiliki sifat paling kuat dalam hal menerangi dan ternyata ia tidak menjumpai suatu hal pun yang lebih kuat daripada sinar matahari. Maka ia menyempurnakannya dengan matahari, dan untuk itu ia bubuhi huruf ك (kata perumpamaan/seperti).
·      Pembagian Tasybih :
(1)    Tasybih Mursal adalah tasybih yang disebut adat tasybihnya. Contoh:
أنا كالماء إنرضيت صفاء وإذاما سخطت كنت لهيبا
(Bila aku rela, maka aku setenang air yang jernih; dan bila aku marah, maka aku sepanas api menyala).
(2)   Tasybih Mu’akkad adalah tasybih yang dibuang adat tasybihnya. Contoh:
انت نجم فى رفعة وضياء تجتليك العيون شرقا وغربا
(Kedudukanmu yang tinggi dan kemashyuranmu bagaikan bintang yang tinggi lagi bercahya. Semua mata, baik di belahan timur maupun barat, menatap ke arahmu).
(3)   Tasybih Mujmal adalah tasybih yang dibuang wajah syibehnya. Contoh:
وكأنّ الشّمس المنيرة دينار جلته حدائد الضّرّاب
(Matahari yang bersinar itu sungguh bagaikan dinar {uang logam} yang tampak kuning cemerlang berkat tempaan besi cetakannya).
(4)   Tasybih Mufashshal adalah tasybih yang disebut wajah syibehnya. Contoh:
سرنا فى ليل بهيم كأنّه البحر ظلاما وإرهابا
(Aku berjalan pada suatu malam yang gelap dan menakutkan, bagaikan berjalan di tengah laut).
(5)   Tasybih Baligh adalah tasybih yang dibuang adat tasybih dan wajah syibehnya. Contoh:
النّشر مسك والوجوه دنا نير واطراف الأكفّ عنم
(Baunya yang semerbak itu bak minyak kesturi, wajah-wajahnya yang berkilauan bak dinar {uang logam} dan ujung-ujung telapak tangannya merah bak pacar).
  • Tasybih Tamtsil adalah tasybih yang wajah syibehnya merupakan gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal, dan disebut ghairi tamtsil bila wajah syibehnya tidak demikian. Contoh:
والماء يفصل بين روض الزّهر فىالشّطّين فصلا
كبساط وشي جرّدت ايدي القيون عليه نصلا
(Sungai memisahkan taman bunga itu pada kedua pinggirnya, bagaikan baju sulaman yang dihamparkan, sedangkan di atasnya tergeletak sebilah pedang yang telah terhunus dari sarungnya).
Abu Firas menyerupakan keadaan air sungai yakni air yang membelah taman menjadi dua bagian di kedua pinggirnya yang dihiasi oleh bunga-bunga indah berwarna-warni yang tersebar diantara tumbuhan-tumbuhan hijau segar, diserupakan dengan pedang berkilau yang dihunus oleh para pembuat senjata lalu diletakkan di atas kain sutera yang bersulamkan aneka warna. Ia hendak menyerupakan kali yang terletak di antara dua taman berbunga dengan pedang terhunus yang diletakkan di atas hamparan kain bersulam. Maka wajah syibehnya adalah gambaran secara menyeluruh bukan mufrad. Gambaran ini diambil dari beberapa hal. Tasybih di atas adalah tasybih-tasybih yang wajah syibehnya berupa gambaran yang terangkai dari beberapa hal dan disebut sebagai tasybih tamtsil.


  • Tasybih Dhimni adalah tasybih yang kedua tharafnya tidak dirangkai dalam bentuk tasybih yang telah kita kenal, melainkan keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih jenis ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hukum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adanya.
قد يشيب الفتى و ليس عجيبا ان يرى النّور فى القضيب الرّطيب
(Kadang-kadang seorang pemuda beruban dan hal ini tidaklah mengerankan. Bunga pun dapat keluar pada dahan yang muda dan lembut).
Dalam syair di atas penyair tidak mengungkapkan tasybih yang jelas karena ia tidak berkata bahwa seorang pemuda yang telah beruban itu bagaikan dahan muda yang berbunga melainkan ia menyatakannya secara implisit (tersirat).


  • Maksud dan tujuan tasybih adalah:
Menjelaskan kemungkinan terjadinya sesuatu hal pada musyabbah yakni ketika sesuatu yang sangat aneh disandarkan kepada musyabbah dan keanehan itu tidak lenyap sebelum dijelaskan keanehan serupa dalam kasus lain.
Menjelaskan keadaan musyabbah yakni bila musyabbah tidak dikenal sifatnya sebelum dijelaskan melalui tasybih yang menjelaskannya. Dengan demikian, tasybih itu memberikan pengertian yang sama dengan kata sifat.
Menjelaskan kadar keadaan musyabbah yakni bila musyabbah sudah diketahui keadaannya secara global lalu tasybih didatangkan untuk menjelaskan rincian keadaan itu.
Menegaskan keadaan musyabbah yakni bila sesuatu yang disandarkan kepada musyabbah itu membutuhkan penegasan dan penjelasan dengan contoh.
Memperindah atau memperburuk musyabbah.


  • Tasybih Maqlub (penyerupaan yang terbalik) adalah menjadikan musyabbah sebagai musyabbah bih dengan mendakwakan bahwa titik keserupaannya lebih kuat pada musyabbah.
كأنّ سناها باالعشيّ لصبحها تبسّم عيس حين يلفظ باالوعد
(Seakan-akan cahaya awan di sore hari sampai menjelang pagi itu adalah senyuman Isa ketika mengucapkan janji).
Penyair menyerupakan cahaya awan yang terus menerus memantul sepanjang malam dengan senyuman orang yang dipujinya ketika menjanjikan pemberian. Padahal sudah pasti bahwa pantulan cahaya awan itu lebih kuat daripada pantulan cahaya senyuman. Dan yang biasa kita dengar adalah senyuman diserupakan dengan pantulan cahaya awan, sebagaimana kebiasaan para penyair. Akan tetapi penyair menyatakan tasybih yang sebaliknya.
1 Al-Mutanabbi berucap dalam syairnya yang berbunyi:
فلا يبرم الآمر الّذي هو حالل و لا يحلل الآمر الّذي هو يبرم  
Maka suatu perkara yang memudar tidak bisa ditegaskan, dan perkara yang tegas tidak dapat dipudarkan.
Syair itu tidak fasih karena mengandung dua kata yang tidak sesuai dengan kaidah sharaf yakni kata haalilu dan yuhlalu. Menurut kaidah sharaf, kedua kata itu harus dibaca haallun dan yuhallu.
2 Sayyidina Hasan r.a adalah seorang penyair Rasulullah Saw, orang Arab sepakat bahwa ia adalah tokoh penyair dari kampung. Suatu pendapat menyatakan bahwa ia hidup selama 120 tahun, 60 tahun dalam masa jahiliyah dan 60 tahun dalam masa keislaman. Ia meninggal pada tahun 54 H.
3Tanafur adalah huruf-huruf yang bila tersusun dalam suatu kata, kata itu sulit didengar dan diucapkan. Tidak ada batas kesulitan tersebut kecuali oleh selera yang sehat dapat diperoleh melalui pengkajian terhadap ucapan bulagha’ (para ahli balaghah) dan uslub mereka.
4Imri’ul Qais adalah tokoh penyair Jahiliyah dan yang merintis pembagian bab-bab dan macam-macam syair. Ia dilahirkan pada tahun 130 sebelum Hijriah. Nenek moyangnya adalah para raja dan bangsawan Kindah. Ia wafat pada tahun 80 sebelum Hijriah. Syair-syairnya yang pernah  tergantung di Kabah sangat mashyur.
5Abu Tammam adalah Habib bin Aus Ath-Tha’i. Ia adalah seorang penyair yang mashyur, satu-satunya orang yang mendalam pengetahuannya tentang ma’ani, fashahah syair dan banyak hafalannya. Ia wafat di Maushil pada tahun 231 Hijriah.
6Unnab adalah sejenis pohon yang merah buahnya، bisa dijadikan makanan dan bisa juga digunakan sebagai obat.

1 comment:

  1. isinya bagus,, buat tambah teman jg ilmu kunjungi jg "Muathofa-afifiblogspot.com

    ReplyDelete