Tuesday, 27 November 2012

Makalah Sejarah Sastra Arab :Dinasti Abbasiyah


PENDAHULUAN

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH

            Drama pemerintahan Islam pada masa Abbasiyah dipimpin pertama kali oleh Khalifah Abu Al-Abbas (750-754) di mana berlokasi di Irak dan dinobatkan di Kufah, dengan julukan Al-Assafah atau yang berarti penumpah darah. Al-Assafah berdiri sebagai dinasti Islam ketiga setelah Khulafa al-Rasyidun dan Dinasti Umayyah. Pemerintahan Abbasiyah berjalan dari tahun 750 M hingga 1258 M dan dipegang terus oleh keturunan Abu Al-Abbas meski mereka tidak sepenuhnya berkuasa.
            Ketika merebut kekuasaan, orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati khalifah yaitu gagasan negara teokrasi yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Dinasti Umayyah. Dan sebagai bentuk khas keagamaan di dalam Dinasti Abbasiyah mereka mengenakan jubah (burdah) khususnya ketika mereka berada di beberapa kegiatan seremonial, dinobatkan sebagai khalifah dan ketika salat Jumat. Mereka memiliki doktrin bahwa kekuasaan selamanya dipegang oleh orang Abbasiyah hingga akhirnya diserahkan kepada Isa (sang juru selamat) dan berteori bahwa jika kekhalifahan ini hancur maka dunia akan chaos.
            Kenyataannya, Dinasti Abbasiyah memang memiliki perubahan keagamaan yang lebih nyata dibandingkan dengan Khalifah Baghdad yang ternyata sama sekulernya dengan Khalifah Damaskus yang telah mereka gulingkan. Jika dibandingkan pula, Dinasti Abbasiyah terdiri dari masyarakat heterogen atau mencakup internasional sedangkan dulu Dinasti Umayyah terdiri dari orang Arab saja. Namun, hal ini bukan berarti memuluskan segalanya. Banyak negara yang hanya mengakui keberadaan dinasti ini sebagai formalitas saja, dan salah satu ibukota masa Dinasti Umayyah di Irak yaitu Wasit enggan mengakui pemerintahan Abbasiyah selama sebelas bulan. Namun aliansi keluarga Abbasiyah dan pendukung Ali yang menguat terutama karena kebencian yang sama terhadap lawan tangguh mereka tidak dapat bertahan lama. Sebab khawatir terhadap para pembelot dan para pendukung Ali di Kufah, Al-Saffah membangun kediamannya di Hasimia (diambil dari nama Hasyim, leluhur keluarga itu) di Anbar. Adapun Baghdad juga dihindari sebab sama seperti Kufah, tidak cocok dijadikan sebagai pusat kerajaan. Di ibukota yang baru didirikan itulah Al-Assafah menghembuskan napas terakhirnya (754) sebab penyakit cacar air yang ia derita. Dan usianya saat itu masih sekitar 30 tahun.
            Sejak wafatnya Al-Assafah, Abbasiyah dipimpin oleh Abu Ja’far (754-775) di mana ia mendapatkan julukan Al-Manshur. Sebenarnya ia-lah yang menjadi pemimpin Abbasiyah sebenar-benarnya sebab pembangunan banyak terjadi di pemerintahan Al-Manshur. Namun, dalam History of The Arabs, Hitti menjelaskan,
‘Bagi para pendukung Ali, khalifah-khalifah Abbasiyah adalah orang yang merebut kekhalifahan dan khalifah yang sah adalah para imam yang berasal dari keturunan Ali dan Fathimah. Namun para pendukung Ali selalu menjadi ganjalan dalam perpolitikan Islam dan bersikeras mengklaim bahwa para imam mereka adalah pewaris kepemimpinan Nabi dan merupakan pancaran khusus cahaya Tuhan.’

            Hal tersebut di atas merupakan salah satu fenomena yang terjadi di pemerintahan Al-Manshur termasuk ketika Persia yang terkenal sebagai tempat terjadinya sentimen nasional antara Zoroaster dan Mazdak Kuno setidaknya berhasil ditangani dan diamankan untuk sementara waktu. Al-Manshur menempati Hashimia pada 762 M dan membangunnya antara Kufah dan Hirah. Ia meletakkan batu pertama untuk ibukota baru di Baghdad yakni tempat lahirnya sebuah kisah legendaris yaitu Seribu Satu Malam dengan tokoh utama mereka, Syahrazad. Ada beberapa alasan mengapa Al-Manshur membangun di kawasan Baghdad sebab daerah itu tempat markas militer yang sangat baik, dilintasi sungai Tigris sehingga bisa berhubungan dengan Cina, mengeruk hasil laut dan hasil-hasil makanan dari Mesopotamia, Armenia dan sekitarnya, juga terdapat sungai Efrat yang memungkinkan penduduk di sana mendapatkan semua hasil bumi Suriah, Raqqah dan sekitarnya. Ia membangun kota itu selama empat tahun dan menghabiskan biaya sebesar 4.883.000 dirham serta mempekerjakan sekitar seratus ribu arsitek, pengrajin dan buruh yang berasal dari Suriah, Mesopotamia dan daerah lain yang berada di wilayah kekuasaan kerajaan.
            Akhirnya, menjadi kota dengan julukan Madinah Al-Salam (kota kedamaian), sebuah kota dengan nama resmi kota Al-Manshur. Sekilas mengenai kondisi fisik kota ini berbentuk melingkar sehingga dijuluki pula dengan kota lingkaran (al-mudawwarah) dengan dinding berlapis dua, parit yang dalam dan dinding ketiga setinggi 90 kaki mengelilingi kawasan utama. Itulah salah satu hasil kerja di masa pemerintahan Al-Manshur dalam membangun kotanya. Sebelum wafat, Al-Manshur membangun istana lain yang disebut Qashr Al-Khuld (Istana Keabadian) disebut demikian sebab difilosofikan bisa menandingi kebun-kebun di Surga (QS 25:15-16) serta di bagian utaranya dibangun istana Al-Rushafah (titian) untuk putra mahkota, Al-Mahdi.



PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN SASTRA DI ZAMAN DINASTI ABBASIYAH

Latar belakang Lahirnya Gerakan Sastra
            Pembangunan yang dibangun oleh Al-Manshur masih berlanjut sampai sebelum ia wafat. Ia membangun kota Al-Manshur dan tumbuh menjadi pusat kota perdagangan dan politik internasional. Kota ini menjadi pewaris kekuatan dan prestise kota Cresiphon, Babilonia, Nineveh, Ur dan ibukota-ibukota bangsa Timur Kuno lainnya. Lokasi ini membuka jalan bagi tumbuhnya gagasan dan pemikiran dari Timur, di mana khalifah membangun pemerintahan dengan meniru model Chosroisme Sasaniyah dan Islam Arab jatuh dalam pengaruh Persia. Pengaruh Persia memperhalus sisi-sisi kasar kehidupan primitif Arab dan melapangkan jalan bagi era baru yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kepelajaran. Maka dari itu, orang Arab hanya mampu mempertahankan warisan budaya aslinya, Islam menjadi agama negara dan bahasa Arab menjadi bahasa resmi administrasi negara.
            Ada sebuah gerakan di zaman itu, bertujuan untuk menentang superioritas yang diklaim oleh orang Islam keturunan arab. Gerakan itu bernama Syu’ubiyah atau nasionalisme yang diambil dari kosakata di dalam ayat alquran (QS:49:13) dan bertujuan untuk menanamkan rasa persaudaraan dan persamaan di antara semua orang Islam. Namun secara umum gerakan syu’ubiyah merupakan perlawanan sastra. Gerakan ini seperti yang ditulis oleh Philip K Hitti dalam History of The Arabs,
‘Gerakan ini mengolok-olok klaim ornag Arab tentang superioritas intelektual mereka, dan mengklaim superioritas orang non-Arab dalam bidang puisi dan sastra.’

            Gerakan non-Arab ini dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Al-Biruni dan Hamzah Al-Ishfahani. Sedangkan gerakan kelompok Arab diwakili oleh tokoh-tokoh Arab dan Persia seperti Al-Jahidz, Ibn Durayd, Ibn Qutaybah dan Al-Baladhuri.

Sejarah Riwayat Sastrawan Arab-Non-Arab dan Karya-karya mereka
            Sastra Arab di sini bukanlah sastra Arab seperti halnya sastra-sastra yang lain. Sebab, penulis sastra Arab adalah orang yang berasal dari berbagai macam etnis. Mereka seperti yang dikatakan Hitti, secara keseluruhan mewakili monumen abadi sebuah peradaban, bukan semata monumen sebuah bangsa.
            Di dalam bukunya, Hitti mengatakan, sastra Arab dalam arti sempit yakni adab (belles-letters) mulai dikembangkan oleh Al-Jahidz (w.868-869), guru para sastrawan Baghdad dan mencapai puncaknya pada abad ke-4 dan ke-5 Hijriah melalui karya-karya Badi Al-Zaman Al-Hamad-Zani (969-1008), Al-Tsa’libi dari Naisabur (961-1038) dan Al-Hariri (1054-1122). Hitti juga menambahkan bahwa salah satu ciri khas penulisan prosa pada masa itu adalah kecenderungan—respon atas pengaruh Persia—untuk menggunakan ungkapan-ungkapan hiperbolik dan bersayap. Ungkapan yang singkat, tegas dan sederhana, yang sebelumnya digunakan, kini telah ditinggalkan untuk selamanya, berganti dengan ungkapan yang semarak dan indah, sarat dengan kata-kata kiasan yang berirama. Dari sisi intelektual pun fenomena itu menandai masa kemunduran dalam tradisi sastra. Di masa inilah kaum proletar sastra subur. Di masa ini juga lahir bentuk baru sastra yaitu maqaamah.
            Maqaamah ini didirikan sejenis anekdot dramatis yang substansinya berusaha dikesampingkan oleh penulis untuk mengedepankan kemampuan puitis, pemahaman dan kefasihan bahasanya. Ia bukanlah karya satu orang melainkan perkembangan alami dari prosa berirama yangs udah disebutkan sebelumnya serta penyusunan kata bersayap layaknya yang pernah dilakukan oleh Ibn Durayd dan para penulis sastra lainnya. Sebelum maqaamah muncul, sastra Arab menyaksikan kemunculan sejarawan sastra terbesar yakni Abu Al-Faraj Al-Ishbahani (sekitar 897-967) seorang keturunan langsung Marwan, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah. Ia tinggal di Aleppo, tempat ia menuntaskan karyanya yaitu Kitab Al-Ghani (buku nyanyian) yang merupakan sebuah warisan puisi dan sastra yang berharga dan sumber utama untuk mengkaji peradaban Islam. Pada masa inilah tidak lama sebelum pertengahan abad ke-10, draf pertama dari sebuah karya yang kemudian dikenal dengan Alf Laylah wa Laylah (seribu satu malam) disusun di Irak. Acuan utama penulisan draf ini yang dipersiapkan oleh Al-Jahsyiyaari adalah karya Persia Klasik, Hazaar Afsana (kisah seribu) yang berisi beberapa kisah yang berasal dari India. Al-Jahsyiyaari menambahkan kisah-kisah lain dari penutur kisah lokal. Dan makin berlalunya waktu, kisah-kisah ini terus ditambahkan dari berbagai sumber; India, Yunani, Ibrani, Mesir dan lain-lain. Termasuk istana Harun Ar-Rasyid menjadi sumber pengambilan berbagai anekdot lucu dan kisah romantis dalam jumlah besar. Bentuk bakunya baru dimasukkan ke dalam kisah Seribu Satu Malam pada masa Dinasti Mamluk di Mesir.
            Mengenai kisah Seribu Satu Malam, diterjemahkan pertama kali ke dalam bahasa Perancis oleh Galland dan kemudian menjadi banyak diterjemahkan ke dalam bahasa utama Eropa, Asia dan menjadi terkenal di Barat sebagai karya sastra Arab terpopuler. Terjemahan bahasa Inggris pertama yang paling penting tidak lengkap namun akurat adalah terjemahan Edward William Lane. Terjemahan John Payne merupakan terjemahan terbaik dalam bahasa Inggris dan yang paling lengkap namun tidak disertai komentar. Sementara itu, dalam mengikuti jejak sebelumnya, Sir Richard F Burton mengikuti langkah Payne kecuali di bagian puisinya, serta berupaya memperbaikinya dengan mempertahankan nuansa ketimuran dalam terjemahannya.
            Di bidang puisi, karya syair pra-Islam tentang kepahlawanan Jahiliah menjadi acuan bagi para penulis puisi pada masa Dinasti Abbasiyah yang karya-karya tiruannya terhadap ode klasik Jahiliah dipandang sebagai karya klasik oleh para penyair Abbasiyah. Meski demikian, penulisan puisi telah menjadi seni Arab yang paling konservatif. Sepanjang masa, seni Arab ini selalu menggemakan semangat gurun pasir. Pendukung paling awal dari gaya baru penulisan puisi ini adalah Basysyaar ibn Burd dari Persia seorang buta yang dihukum mati tahun 783 pada masa Al-Mahdi karena menurut beberapa pihak, ia telah mengungkapkan kata-kata kasar dan tidak sopan kepada wazirnya namun sebenarnya ia telah mengungkapkan pandangan rahasia kaum zindik, zoroaster atau Manikea. Ia bersyukur kepada Allah karena telah menciptakannya dalam keadaan buta sehingga ia tidak perlu melihat hal-hal yang ia benci. Ia pun melakukan pemberontakan terhadap formulasi puisi kasik yang telah ketinggalan zaman. Formula ini didukung oleh Abu Nuwas (w. Sekitar 810) seorang keturunan separuh Persia teman dekat Harun dan Al-Amin serta penyair yang mampu menyusun lagu terbaik tentang cinta dan arak. Hingga saat ini di dunia Arab nama Abu Nuwas identik dengan badut. Kepenyairan Abu Nuwas disaingi oleh segelintir orang yang menulis sajak-sajak cinta, ungkapan erotis dan pidato-pidato yang elegan. Ia merupakan penyair liris terbesar di dunia Islam. Kebanyakan lagu tentang ketampanan anak laki-laki yang dinisbatkan kepada tokoh kesayangan istana keluarga Abbasiyah ini juga puisi-puisinya tentang pujian terjadap arak (khamriyaat) yang selalu memikat orang yang membaca dan meminumnya. Puisi ghazal karya Abu Nuwas sebuah puisi pendek tentang cinta yang berkisar mulai dari lima hingga lima belas bait mengikuti model penyair Persia yang mengembangkan model bait tersebut lama sebelum bangsa Arab mengenalnya.
            Seorang sufi yang sezaman dengan Abu Nuwas adalah Abu Al-Ataahiyah (748-sekitar 828) yang berprofesi sebagai perajin tembikar, mengungkapkan pandangan pesimistik tentang kegersangan hidup yang dialami oleh orang-orang beragama. Ia melancarkan perlawanan terhadap gaya hidup Baghdad yang mewah dan meskipun Harun memberinya santunan sebesar 50 ribu dirham setahun, ia tetap mengenakan baju sufi dan menggubah puisi-puisi keagamaan (zuhdiyat) yang menjadikannya sebagai bapak puisi keagamaan Arab. Selama masa Dinasti Abbasiyah berbagai provinsi terutama Suriah telah menghasilkan penyair kelas satu dan salah satu diantara penyair itu adalah Abu Tammaam (w sekitar 845) dan Abu Al-Ala’. Abu Tammaam adalah seorang penyair istana di Baghdad. Ia mencapai popularitasnya berkat karyanya, Diwan dan kumpulan tulisannya Diwan Al-Hamasah. Isinya mengenai puisi-puisi pujian atas keberanian di medan perang. Diwan ini merupakan permata puisi Arab. Kumpulan puisi Hamasah juga memuat karya penyair istana yaitu Al-Buhturi (820-897), namun lebih rendah kualitasnya dibandingkan karya Abu Tammaam yang menjadi acuan.

























PENUTUP

            Dukungan yang diberikan oleh para khalifah, wazir dan gubernur Dinasti Abbasiyah kepada para penyair yang mereka pekerjakan untuk menulis dan membacakan pujian tidak saja membuat ungkapan pujian (madih) menjadi genre sastra yang paling disenangi. Tapi malah mendorong para penyair melakukan pelacuran sastra, dan pada akhirnya memunculkan nuansa kemegahan palsu dan kebohongan kosong yang sering dikatakan sebagai unsur yang melekat dalam puisi Arab. Penulisan puisi pada masa Dinasti Abbasiyah dan penulisan sastra pada masa-masa lainnya. Pada dasarnya, bersifat subjektif dan teritorial, sarat dengan warna lokal namun tidak mampu menembus batasan tempat dan waktu sehingga tidak memperoleh tempat di tengah-tengah generasi penyair dari setiap zaman dan tempat.


Referensi:

Hitti, Philip K. 2008. History of The Arabs. Jakarta:Serambi.

1 comment:

  1. Sehubungan dengan akan diselenggarakan kegiatan Seminar Ilmiah Nasional Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur dan Teknik Sipil (PESAT) 2013 dengan tema Peningkatan Daya Saing Bangsa Melalui Revitalisasi Peradaban pada tanggal 8-9 Oktober 2013 di Bandung, maka kami mengundang Bapak/ibu/sdr/sdri turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada alamat URL http://penelitian.gunadarma.ac.id/pesat

    ReplyDelete