Tuesday, 27 November 2012

Tugas Sosiolinguistik : MASYARAKAT TUTUR


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

            Masyarakat dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan di mana masyarakat dapat terbentuk oleh bahasa yang dipakainya. Demikian pula dengan bahasa yang digunakan di dalam masyarakat dapat dipergunakan untuk mencocoki kepentingan interaksi para anggota. Adapun dalam sebuah interaksi masyarakat terdapat kemampuan komunikatif. Di mana kemampuan komunikatif ini meliputi kemampuan bahasa yang dimiliki oleh penutur beserta keterampilan mengungkapkan sesuai dengan fungsi dan situasi serta norma-norma pemakaian dalam konteks sosialnya (Pride dan Holmes, 1972:269-293).
            Sebuah pendapat mengatakan bahwa masing-masing individu memiliki kemampuan komunikatif yang ditentukan oleh masyarakat dengan kata lain, masyarakat itu sendiri merupakan himpunan dari individu-individu dengan segala komunikasi dan interaksinya. Himpunan ini dikenal dengan istilah masyarakat tutur. Adanya perbedaan pendapat di kalangan pakar sosiolinguistik akan substansi dari masyarakat tutur menjadikan definisi masyarakat tutur yang luas dan beragam. Kepentingannya adalah apakah pemahaman mengenai masyarakat tutur berasal dari himpunan individu yang komunikatif adalah benar atau memang masyarakat itu sudah tercipta sebagai sebuah masyarakat tutur dengan bahasa yang digunakan.
            Dengan adanya latar belakang masalah perbedaan pandangan mengenai pengertian dan substansi masyarakat tutur membuat penulis bermaksud menyampaikan uraian mengenai pengertian masyarakat tutur beserta atributnya dalam makalah yang berjudul “Masyarakat Tutur.”

           


I.2 Rumusan

            Dari latar belakang di atas dapat disimpulkan rumusan sebagai berikut:
Ø  Apa yang dimaksud dengan masyarakat tutur?
Ø  Apa yang mendasari terciptanya sebuah masyarakat tutur?
Ø  Di manakah letak bahasa? Di dalam masyarakat tutur atau di dalam individu dalam sebuah masyarakat tutur?
I.3 Manfaat

Ø  Secara teoretis makalah ini memiliki manfaat dalam pengembangan kajian ilmu linguistik khususnya sosiolinguistik.
Ø  Secara praktis makalah ini memiliki manfaat sebagai referensi, wacana pendukung atau bahan rujukan bagi pembaca.



BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Masyarakat Tutur

            Dalam bahasa Inggris, masyarakat tutur memiliki padanan istilah yakni speech community. Masyarakat tutur secara teori termasuk ke dalam variasi atau ragam bahasa dalam konteks sosial. Ragam bahasa dalam konteks sosial  memiliki dua hal yang saling berkaitan yaitu verbal repertoire dan masyarakat tutur. Sebelum masuk ke dalam pengertian masyarakat tutur, lebih baik kita memahami verbal repertoire terlebih dahulu. Verbal repertoire merupakan kemampuan komunikatif di mana kemampuan ini terbagi dua yaitu kemampuan komunikatif yang dimiliki oleh setiap penutur secara individu dan kemampuan komunikatif yang dimiliki oleh masyarakat tutur secara keseluruhan. Adapun kemampuan komunikatif setiap penutur ditentukan oleh masyarakat di mana ia merupakan anggotanya, dan kemampuan komunikatif suatu masyarakat tutur terjadi dari himpunan kemampuan komunikatif seluruh penutur dalam masyarakat menjadikan pengertian masyarakat tutur bukan sekedar kelompok orang yang mempergunakan bentuk bahasa yang sama. Akan tetapi, kelompok orang-orang yang juga mempunyai norma yang sama dalam memakai bentuk-bentuk bahasa.
            Fishman (1975:28) memberi batasan bahwa masyarakat tutur ialah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidak-tidaknya mengenal satu variasi tutur beserta norma-norma yang sesuai dengan pemakaiannya. Hal ini menjelaskan bahwa masyarakat tutur bersifat netral dalam arti dapat digunakan secara luas dan besar serta dapat pula digunakan dalam menyebut masyarakat kecil atau sekelompok ornag yang menggunakan bahasa relatif sama dan mempunyai penilaian yang sama dengan pemakaian bahasanya.
            Dalam bukunya, Leonard Bloomfield (1933 ch.3) pernah membahas mengenai masyarakat tutur namun terdapat kerancuan dan ketidak sepakatan akan masyarakat tutur menurut beberapa pakar sosiolinguistik lain. Misalnya saja menurut Bloomfield sendiri, masyarakat tutur merupakan sekelompok orang yang berinteraksi dengan cara berbicara. Ini memungkinkan bahwa beberapa dari mereka berinteraksi dengan cara satu bahasa dan menggunakan bahasa lain dengan orang yang lain pula. Berbeda dengan pendapat John Lyons (1970:326). Secara garis besar ia mengatakan bahwa semua orang yang menggunakan bahasa atau dialek tertentu merupakan masyarakat tutur. Menurut definisi ini, masyarakat tutur menjadi tumpang tindih sebab ada dwibahasa individu yang tidak memerlukan kesatuan sosial atau budaya. Pakar lain yaitu menurut Gumperz (1968), masyarakat tutur adalah setiap jumlah total manusia yang ditandai oleh adanya interaksi rutin dengan tanda-tanda verbal dan ada pula jumlah total serupa dengan perbedaan yang signifikan dalam penggunaan bahasa, hal ini tidak harus ada pada satu bahasa untuk setiap masyarakat tutur. Penekanannya ada pada komunikasi dan interaksi. Labov (1972:120) menjelaskan bahwa masyarakat tutur tidak didefinisikan sebagai persetujuan yang ditandai dalam penggunaan elemen bahasa. Lebih banyak pada partisipasi dan pembagian norma.
            Hampir sama dengan definisi yang diberikan oleh Labov, merujuk pada pembagian norma-norma dan pola abstrak akan keanekaragaman dibandingkan dengan kebiasaan tutur telah disampaikan oleh Dell Hymes (1972) dan Michael Halliday (1972). Hal ini dapat terlihat bahwa definisi semacam ini meletakkan penekanan atau penegasan akan masyarakat tutur sebagai sebuah kelompok di mana orang merasa dirinya berada di sebuah komunitas dalam arti tertentu.

II.2 Penyebab Suatu Komunitas Disebut Masyarakat Tutur
           
            Dengan beberapa pengertian di atas, bisa dikatakan bahwa setiap kelompok orang-orang di dalam masyarakat yang karena tempat atau daerahnya, umur atau jenis kelaminnya, lapangan kerja atau hobi dan sebagainya menggunakan bahasa yang sama dan mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasanya mungkin membentuk suatu masyarakat tutur.
             Atau bisa juga dikatakan bahwa dalam suatu masyarakat atau kelompok orang mampu disebut masyarakat tutur disebabkan memiliki kemampuan komunikatif yang relatif sama dan mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan dalam masyarakat itu. Gumperz (1964:37-53) menerangkan bahwa suatu ketentuan dasar dari masyarakat tutur adalah masyarakat tersebut bukanlah suatu masyarakat yang berbicara dengan bahasa yang sama, melainkan suatu masyarakat yang timbul karena rapatnya komunikasi atau integrasi simbolis, dengan tetap menghormati (mengakui) kemampuan komunikatif penuturnya tanpa mengingat jumlah bahasa dan atau variasi bahasa yang dipergunakannya.

            II.3 Posisi Bahasa
           
            Dengan berbagai pendapat yang berbeda mengenai pengertian masyarakat tutur tidak menjadikan masalah yang berarti. Semua pendapat itu relatif benar. Namun yang penting adalah kembali pada hal dasar atau fundamental yakni di manakah lantas letak bahasa itu? Di dalam masyarakat tutur ataukah dalam kemampuan komunikatif penutur yang ada di dalam masyarakat tutur? Jika berada di dalam individu, alasannya, individu menggunakan bahasa untuk memposisikan dirinya dalam dimensi yang banyak akan aspek-aspek sosial. Sedangkan jika berasal dalam masyarakat tutur maka akan merujuk pada pernyataan Labov (1989:52) bahwa bahasa bukanlah milik individu melainkan masyarakat. Beberapa deskripsi mengenai bahasa harus terkait dengan masyarakat tutur sebagai objek jika ditujukan untuk keadilan dan untuk keanggunan dan keberaturan struktur bahasa.


BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
  1. Masyarakat tutur merupakan sebuah kelompok yang menggunakan bentuk bahasa yang relatif sama, memiliki norma yang sama dan bersifat netral.
  2. Kondisi kesamaan umur, jenis kelamin, lapangan kerja, dan hobi bisa dikatakan dasar dari pembentukan sebuah masyarakat tutur.
  3. Masyarakat tutur bisa meliputi pemakaian bahasa dalam suatu negara atau bangsa. Namun bisa juga dengan beberapa negara, apabila masyarakat tersebut menggunakan bahasa yang sama dan penilaian yang sama terhadap pemakaian bahasa dan normanya.
  4. Masyarakat tutur yang kemampuan komunikatifnya lebih luas menunjukkan bahwa kemampuan komunikatif setiap penuturnya lebih luas pula.
  5. Bahasa terletak pada masyarakat tutur yang secara umum dikatakan oleh Labov bahwa bahasa bukanlah milik individu melainkan milik masyarakat.









DAFTAR PUSTAKA

Kartomihardjo, Soeseno.___.Peranan Sosiolinguistik Dalam Pengajaran Bahasa. Malang:IKIP
Suwito. 1996.Sosiolinguistik.Surakarta:Fakultas Sastra Seni Rupa UNS
______. Sociolinguistics. Cambridge Textbooks in Linguistics

No comments:

Post a Comment